Wednesday, July 29, 2015

Make or Sell : Permasalahan dalam rantai nilai salak


Apakah salak hasil panen dijual sebagai buah segar ataukah diproduksi menjadi keripik salak? Sebuah pertanyaan yang sering dihadapi oleh petani tatkala memanen komoditas hasil pertanian. Tentunya bagi petani jawabannya adalah, “untung mana antara dijual dengan diolah ?”. Pertanyaan yang sederhana, namun akan berdampak pada rantai nilai maupun rantai pasok komoditas pertanian. Produsen keripik salak akan mencari salak yang sesuai dengan kualitas, harga salak serta biaya produksi. Apabila petani salak hanya mempertimbangkan seberapa marjin apabila menjual sebagai buah kepada tengkulak atau produsen keripik, maka produsen harus mempertimbangkan kualitas, harga, biaya produksi dan marjin apabila dijual. Menguntungkan atau tidak bagi produsen jauh lebih kompleks dibandingkan petani salak, mengingat resiko menanam salak lebih kecil dibandingkan menanam tanaman lain di lahan mereka. Penanaman salak mahal pada saat pertama kali menanam atau biaya set-up besar. Perilaku pelaku dalam rantai pasok sangat bergantung pada rantai nilai salak yang tergantung pada ketersediaan salak sepanjang tahun. Masa panen buah salak berkisar antara 2 hingga 3 tahun sejak masa tanam.

Selengkapnya...

Tuesday, April 22, 2014

Membangun Turi : Integrasi Agrowisata dan Agroindustri

Ketika jalan-jalan di seputaran kota Bogor, aku melihat sebuah pick-up parkir tak jauh dari pagari Istana Bogor. Pick up tersebut menjual buah salak pondoh. Ketika kutanya, darimana mendapatkan salak pondoh tersebut, sang penjual bilang berasal dari Turi, Sleman. Karena penasaran aku tanya pula, apakah langsung dari Turi ataukah melalui pedagang perantara, iapun menjawab ia dapat langsung dari saudaranya dari daerah Tempel, Sleman. Karena merasa memiliki Sleman dan dia merasa bahwa kakek-neneknya juga berasal dari Sleman kamipun lantas ngobrol dengan bahasa Jawa.

Selengkapnya...

Monday, April 21, 2014

Membangun potensi agropolitan Sleman : antara mitos dan realitas ?

Pemerintah Republik Indonesia melalui kementrian-kemetrian maupun melalui dinas-dinas di daerah sedang menggalakkan produk lokal khas daerah untuk meningkatkan daya saing. Sayangnya, visi dan misi yang sangat mulia tersebut masih dalam banyak wacana. Sering sekali dilakukan berbagai workshop untuk melaunching berbagai kekhasan lokal. Seiring dengan inisiatif penggalakan produk khas lokal, pemerintah Indonesia juga sedang menginisiasi aspek Haki produk dan komoditas lokal. Kemunculan komoditas/produk berindikasi geografis untuk berbagai komoditas pertanian layak kita acungi jempol. Kedua inisiatif, baik penggalakan produk khas lokal daerah maupun motivasi pendaftaran indikasi geografis layak kita apresiasi bersama. Harapan kedepan adalah "menaiki gelombang perubahan" daripada dipermainkan oleh "gelombang perubahan" itu sendiri.

Selengkapnya...

Agro-klustering UKM berbasis salak pondoh

Diserahkannya sertifikat indikasi geografis bagi salak pondoh Sleman membawa implikasi pada bagaimana mengelola salak pondoh pada level makro (kebijakan), meso (usaha) dan mikro (proses pemberian nilai tambah).

Sertifikasi indikasi geografis salak pondoh, sejauh manakah dapat berpengaruh terhadap ekonomi dan kesejahteraan masyarakat penghasil, pelaku ekonomi maupun ekonomi secara umum ? Apakah sertifikasi indikasi geografis secara umum dapat mempengaruhi itu semua ? ataukah hanya akan menjadi sertifikat tanpa dampak ?

Selengkapnya...

Kopi Buah Salak Pondoh Sleman

Kopi buah salak sebenarnya bukanlah sejenis minuman baru di Indonesia. Ia sudah banyak dibuat oleh saudara-saudara kita di Tapanuli Selatan sebagai salah satu minuman khas Tapanuli Selatan. Namun, inovasi biji salak ini kemudian diadopsi oleh beberapa inovator di beberapa daerah penghasil salak di Sleman. Hal ini semakin menambah inovasi anak bangsa untuk meningkatkan value dari hasil pertanian lokal.

Buah ini memiliki nama latin Salacca zalacca dan banyak ditanam di beberapa wilayah Indonesia. Beberapa diantaranya terkenal di beberapa wilayah seperti:
  • Salak sidempuan, dari Sumatera Utara
  • Salak condet, Jakarta
  • Salak pondoh, Sleman
  • Salak bali, Bali
Salak pondoh merupakan hasil utama beberapa kecamatan di wilayah Sleman dan beberapa wilayah Magelang.Di daerah Sleman, salak pondoh banyak ditanam di daeah Kecamatan Tempel, Turi, dan Pakem. Wilayah ini disebut sebagai wilayah wisata agro, dengan kekhasan daerah lereng pegunungan Merapi yang subur. Belum diperoleh sejak kapan tanaman salak dibudidayakan di wilayah-wilayah tersebut, namun yang jelas salak pondoh menjadi salah satu pendapatan utama masyarakat wilayah tersebut.

Gerbang salah satu perkebunan salak di wilayah Sleman


Dengan diserahkannya sertifikasi indikasi geografis, maka salak pondoh diakui kekhasannya dan diharapkan memiliki daya saing di pasar. Namun demikian, berbagai pihak masih meragukan pengaruh indikasi geografis pada harga pasar ? Apakah akan berpengaruh secara signifikan ? Nampaknya valorisasi hanya berbasis indikasi geografis semata belum bisa diharapkan, kecuali dilakukan inovasi yang memberikan nilai tambah pada buah salak.

Beberapa inovasi yang telah dilakukan antara lain, kripik buah salak, jenang buah salak dan sekarang minuman biji salak. Minuman biji salak ini memiliki potensi untuk dikembangkan, tentunya dengan dukungan secara kelembagaan maupun secara proses produksi. Dengan adanya inovasi kopi buah salak, diharapkan salak pondoh memiliki value added tinggi.

Seorang warga dusun Donoasih, Donokerto, Turi, Sleman yang bernama Supriyono melakukan pembuatan serbuk minuman biji salak pondoh. Meski belum diuji secara klinis, namun dianggap memiliki manfaat menurunkan tekanan darah tinggi dan asam urat.
 
Penjajal minuman biji salak pondoh
 
Supriyono mengaku bahwa ia belum berani memasarkan secara komersial karena masih mengurus perizinan. Namun demikian langkah inovasi ini perlu ditindaklanjuti berbagai pihak dan dikembangkan berbasis konsep ABG (Academic, Business dan Government). Namun untuk komoditas pertanian perlu ditambahkan satu lagi pelaku, yaitu suatu lembaga yang dapat menginisiasi inovasi lanjut, mungkin semacam LSM/NGO.

Proses produksi dasar minuman biji salak pondoh dapat dilihat di gambar berikut ini :
 
Proses produksi minuman salak pondoh

Biji salak yang semula dianggap limbah bisa diberikan nilai tambah melalui serangkaian proses sederhana. Simpleksitas pengolahan biji salak ini bukan berarti tanpa inovasi, namun inovasi diperlukan untuk memberikan taste atau citarasa. Belum pernah diadakan uji coba untuk melihat pengaruh pengolahan pada cita rasa. Hal ini perlu dilakukan karena proses pengolahan yang berbeda dapat mempengaruhi citarasa.

Kita ambil contoh pada citarasa kopi yang ternyata dipengaruhi oleh lama penyangraian (roasting), lama holding time yang turut mempengaruhi kadar air dan aktivitas zat organik. Meski terlalu awal untuk melihat inovasi di sisi citarasa, namun nantinya faktor-faktor inilah yang akan berpengaruh.

Kontinyuitas bahan baku juga penting untuk diperhatikan, karena tanpa memperoleh bahan baku yang kontinyu, maka produksi akan terhenti. Solusi yang mungkin bagi calon pengusaha produk berbasis salak adalah membuat pohon industri berbasis salak. Dengan adanya pohon industri berbasis salak, maka dapat diketahui produk nilai tambah apa saja yang bisa diusahakan dari salak. Calon usahawan dapat melihat potensi lain sekaligus memperhitungkan kebutuhan bahan baku.

Supriyono mengaku bahwa 1 kilogram biji salak dapat menghasilkan kurang lebih 1 ons bubuk. Maka berdasarkan hitungan ini perlu dilakukan hitungan kebutuhan bahan baku untuk menghasilkan sekian kilogram bubuk salak. 

Kita tahu, bahwa biji salak dapat diperoleh dari limbah orang memakan salak. Dengan perhitungan itu, dimanakah kira-kira mendapatkan biji salak ? Apakah "mulungi" biji salak dari penjual salak ? Ataukah membuat suatu usaha manisan, jenang, keripik salak sekaligus membuat usaha minuman biji salak ? Bagaimanakah kelembagaannya ? Apakah perlu dibentuk suatu kluster industri salak terintegrasi ?







Selengkapnya...

Tuesday, March 25, 2014

Selamat atas Indikasi Geografis Salak Pondoh

Pertama-tama, saya ucapkan selamat kepada masyarakat/komunitas Salak Pondoh Sleman. Saya ikut merasa berbahagia karena saya memiliki keterikatan emosional dengan Salak Pondoh dan petani salak pondoh. Leluhur saya berasal dari daerah Turi. Di saat liburan dulu, aku sering menginap di rumah nenek di dusun Garongan, Turi, Sleman. Pada saat tertentu di daerah Turi, para petani salak membawa salak hasil petikan ke pasar dengan memakai "tenggok". Jaman dahulu rutinitas petani salak sangat mempengaruhi kegiatan ekonomi daerah tersebut. Maka, dengan indikasi geografis, saya ikut berharap agar kesejahteraan petani ikut terangkat, bukan hanya kesejahteraan pedagang besar yang sering mendapatkan rente ekonomi yang besar.


Saya sangat concern dengan kemajuan pertanian Indonesia. Bagaimana tidak, sejak jaman dahulu kala hingga sekarang, pertanian itu saya anggap sebuah sektor yang penting, namun sering sekali diabaikan. Dengan munculnya indikasi geografis, paling tidak petani dan rakyat Indonesia bisa mem-proteksi komoditasnya. Marilah sedikit kita kembali pada sejarah pertanian dalam artian khusus dan sejarah penjajahan secara luas.

Masih ingatkah kita tatkala VOC banyak mendapatkan margin keuntungan yang gedhe karena memperdagangkan komoditas pertanian dan perkebunan sehingga untung berlipat ganda ? Setelah Belanda mencakarkan kaki-nya di pulau Jawa dengan mendirikan Pemerintah Hindia Belanda sebagai agen penghisap kekayaan melalui cultuur steelsel ? Masihkah kita ingat pula tatkala Pemerintah Hindia Belanda melaksanakan Politik Pintu Terbuka dan membuka kran kepada pihak swasta untuk berinvestasi menanam berbagai varietas tanaman untuk dijual di pasaran Eropa ?

Saya mencoba untuk tidak menyalahkan bangsa Belanda dalam menghisap kekayaan biomassa Nusantara, karena Belanda tidak akan bisa melakukan itu tanpa kerjasama dengan para tuan tanah dan ndoro-ndoro pribumi. Dengan bekerjasama degan para tuan tanah dan pemimpin-pemimpin pribumi jaman dahulu, VOC mampu meminimalisir biaya operasional rantai pasok sehingga keuntungannya besar. Pun, pemerintah Hindia Belanda mampu mendapatkan supply tiada henti karena memaksa rakyat untuk menanam tanaman perkebunan yang laku di Eropa, sehingga rakyat kelaparan karena lahan sebagian besar digunakan untuk menanam tanaman perkebunan.

Jaman penjajahan ekonomi di Jawa pada era VOC maupun pada era Hindia Belanda dengan sarana dan mekanisme berbeda seharusnya membuat kita sadar. Membuat kita sadar bahwasanya petani tidak pernah mendapatkan kesejahteraan. Petani menanam komoditas yang sangat laku dengan todongan senjata dari penjajah londo maupun pribumi, namun tidak memiliki kesejahteraan. Ketika harga di dunia membumbung tinggi, petani tidak mendapatkan apa-apa, sedangkan ketika harga turun, petani terlebih akan sengsara. Saat inipun apabila mendengar istilah rantai pasok pertanian, petani tidak dipertimbangkan masuk ke dalam pelaku rantai pasok. Pedagang antaralah yang dianggap sebagai ujung tombak rantai pasok, sehingga economic rente berhenti sampai pedagang perantara. Hal ini disebabkan karena tidak adanya perbedaan (indiferensi) dalam komoditas pertanian.

Salah satu upaya untuk melakukan indiferensiasi adalah dengan Indikasi geografis sekedar proteksi ?. Kita sebenarnya harus sadar bahwasanya komoditas pertanian itu berbeda-beda dan memiliki kekhasan. Semisal Salak Pondoh yang rasanya berbeda dengan Salak Bali atau salak dari daerah lain. Apabila tidak ada kekhasan yang muncul dalam perdagangan komoditas pertanian, maka akan terjadi pencampuran dan indiferensiasi. Pedagang antara akan dengan seenaknya mencampur komoditas kopi, misalnya, yang memiliki perbedaan khas antar daerah penghasil maupun antar varietas (Robusta-Arabica). Saya pernah ngobrol dengan beberapa petani kopi dari Bengkulu yang membenarkan bahwa tidak ada perbedaan antara robusta dan arabica akan menyebabkan petani malas untuk menghasilkan atau menjual kopi Arabica yang bermutu karena toh harga Arabica dan Robusta sama di pasaran atau berbeda jauh. Beberapa petani kopi dari Mandailing pernah mengatakan bahwa indikasi geografis Mandailing pada suatu waktu mampu mendongkrak harga Arabica Mandailing di pasaran. Hal inilah yang kemudian membuat Salak Pondoh dianggap semakin potensial ketika memiliki sertifikat indikasi geografis. Namun, apakah demikian ?

Salak pondoh bukanlah kopi Arabica yang supply-nya sangat diharapkan oleh perusahaan korporasi internasional. Pada kasus kopi, sebelum adanya de-komoditasi indikasi geografis, terjadi "coffee paradox" terjadi. Coffee paradox terjadi tatkala pendapatan di daerah asal kopi, dalam hal ini petani di daerah tropis dan subtropis memperoleh nilai ekonomis yang kecil, sedangkan di daerah konsumen di luarnegeri, keuntungan para roaster berlipat-lipat ganda karena berbagai faktor, termasuk faktor perbedaan nilai mata uang. Dengan adanya indikasi geografis pada kopi, maka kopi mengalami de-komoditasi, sehingga diferensiasi terjadi. Korporasi besar apabila ingin menjual kopi Arabica yang berkualitas tinggi harus rela merogoh koceknya lebih dalam lagi. Produk-produk berindikasi geografis yang berhasil, ternyata menyebabkan rantai pasok menjadi pendek, sehingga transmisi harga sampai petani menjadi relatif langsung dan tidak melalui rantai pasok yang panjang. Lalu, bagaimanakah dengan Salak Pondoh Sleman ? Pasar manakah yang akan digapai ? Dan apakah diferensiasi pada salak pondoh sangat diperlukan untuk meningkatkan harga salak pondoh. Studi mengenai hal ini sangat penting untuk dilakukan.
Selengkapnya...

Thursday, May 5, 2011

Kuliner Sleman : Brongkos Warung Ijo Bu Padmo

Brongkos Warung Ijo Bu Padmo, demikian bunyi tulisan di sebuah warung sederhana bercat hijau di bawah jembatan Krasak, Tempel, Sleman, DIY. Orang tidak akan percaya bahwa warung ini termasuk salah satu dari sekian banyak kuliner Nusantara yang pernah disambangi Pak Bondan "mak nyuus". Sepintas warung ini tidak ada bedanya dengan warung makan di sebuah pasar yang terletak diantara dua kota. Namun apabila telah memesan dan menikmatinya, hmmmmmmm, mak nyuuuuus. Saya menyempatkan mampir ke warung tersebut dengan istri saya dan menikmati dua porsi nasi dengan brongkos yang terkenal itu, dua gelas teh manis, dan sebuah pergedel kenthang semuanya seharga Rp. 34.000,-. Lumayan mahal untuk masyarakat sekitar warung tersebut, namun bagi anda pecinta kuliner pasti akan mengatakan, "mak nyuuuuuus, worth it Jek till the last spoon". 
Selengkapnya...

Obyek Wisata Baru Sleman : kampoeng Maridjan

Paska letusan dahsyat Merapi yang merenggut nyawa Mbah Maridjan, sang "pawang" Merapi, terbentuklah obyek wisata baru di Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Wilayah ini merupakan salah satu wilayah di lereng Merapi yang paling parah terkena dampak letusan dan erupsi Merapi. Namun, beberapa bulan terakhir, muncullah secercah harapan wisata dibalik kesedihan.
Selengkapnya...

Museum Gunung Merapi Sleman : Mampukah bersaing ?

Sebuah museum baru di Sleman telah dibuka. Sebuah alternatif baru untuk menelaah kembali kegunung-apian, terutama Gunung Merapi. Mampukah ia bersaing dengan Volcanic Centre di Ketep Pass ? Sebelum terjadinya letusan Merapi, barangkali museum gunung Merapi di wilayah Kaliurang, Sleman tersebut barangkali tidak lebih menarik dibandingkan dengan "rekan seprofesinya" di Ketep Pass. 
Selengkapnya...

Monday, May 2, 2011

Mengembangkan eko-wisata Sleman

Masyarakat Sleman sudah selayaknya bersyukur atas karunia limpahan keindahan alam-nya. Bukan hanya tanahnya yang subur saja yang mendatangkan manfaat, namun pemandangannya yang indah turut serta memberikan sumbangsih terhadap manfaat tersebut. Mulai dari pojokan timur sampai dengan tapal batas barat, mulai dari lereng merapi sampai perbatasan dengan kota Yogyakarta, Sleman memang memiliki kelengkapan mulai dari infrastruktur sampai dengan keindahan alam. 


Selama ini, wisata Sleman berada sebagai pelengkap wisata budaya Yogyakarta, namun sebenarnya tidak. Banyak sekali obyek wisata apabila dikemas sebagai satu paket maka akan menjadi sebuah sistem eko-wisata yang saling mendukung. 




 Dari sisi keuangan, wilayah Sleman terjangkau oleh layanan dari bank-bank BUMN maupun BUMD lengkap dengan ATM-nya. 


Transportasi-pun ada jalan utama wisata yang menghubungkan Tempel di perbatasan DIY-Jateng bagian utara dengan perbatasan DIY-Jateng bagian timur. Gambar di bawah ini merupakan gambar dari jalan wisata Tempel-Prambanan yang menghubungkan Tempel dan Prambanan. Jalan di bawah ini lebar dan dapat dilalui bis wisata.


 Di wilayah Pakem terdapat banyak sekali warung makan dan restoran yang menyuguhkan menu ikan kolam, seperti gurame, bawal, dsb. Dengan nuansa desa, pengunjung juga disuguhi oleh penyanyi yang biasanya manggung pada saat peak season. Salah satu pojok dari sebuah restoran alam dapat dilihat sebagai berikut :





Di wilayah daerah antara Tempel dan Turi terdapat berbagai wisata alam yang memberikan layanan outbound, trekking, jelajah desa, jelajah sungai dan kebun salak petik-sendiri. 




Apabila anda ingin mengadakan tour secara berkelompok, dapat menghubungi Sdr Syits Romi dengan nomer HP : 087838148877. Menyediakan jasa tour, travel dan guide.









Selengkapnya...

Sepinya Kaliurang, Ramainya Cangkringan

Letusan Merapi tahun lalu ternyata tidak hanya meninggalkan duka bagi warga Cangkringan, namun meninggalkan jejak wisata bagi wilayah ini. 

Kaliurang yang sejak dahulu kala terkenal sebagai tempat wisata lengkap dengan penginapan-penginapannya, saat ini kalah saing dengan wilayah Cangkringan paska letusan dan erupsi Merapi. Wilayah Kaliurang dan Cangkringan sama-sama berada di kaki gunung Merapi, perbedaannya adalah Kaliurang berada dibalik bukit Plawangan sehingga relatif aman dari erupsi Merapi. Berbeda dengan Cangkringan yang terletak di sebelah timur bukit Plawangan sehingga relatif terbuka terhadap lelehan lahar. 


Apabila melewati wilayah Kaliurang, dapat dilihat berbagai penginapan milik pribadi maupun milik instansi yang disewakan. Banyak pula warung makanan yang menjajakan dagangannya kepada para pengunjung yang rata-rata berasal dari wilayah lain dari propinsi DIY. Pengembangan wisata pegunungan oleh pemkab barangkali sebelumnya lebih mengarah ke Kaliurang dibandingkan ke Cangkringan, namun setelah Merapi erupsi, Cangkringan jadi wilayah wisata jelajah alam yang sepktakuler.

Wilayah kali Gendhol yang dilalui awan panas, sekarang mengalami perubahan bentuk DAS, menjadikannya seperti kondisi yang jauh berbeda dari sebelumnya.






Nampak beberapa pedagang asongan menjajakan dagangannya di wilayah ini. Tidak ada informasi yang dapat dijadikan acuan akan asal dari para pengasong tersebut, apakah asli daerah itu apakah bukan.




Di pojok desa dapat dilihat para pemuda yang melakukan ronda secara bergiliran selama 24 jam untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.


Selengkapnya...

Monday, November 29, 2010

NKRI Harga Mati, Keistimewaan DIY sampai Mati !!!


Demikianlah beberapa kata yang dilontarkan warga DIY yang sebagian besar menginginkan dan mempertahankan keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwono kaping IX


Selengkapnya...

Monday, November 8, 2010

Mengapa para pengungsi Merapi bandel pulang ke rumah ?


Banyak yang mengira, para pengungsi Merapi adalah manusia-manusia bandel yang tidak tau betapa berharganya nyawa dan keselamatan diri. Namun, apabila dianalisis lebih mendalam, "kebandelan" mereka itu beralasan.


Mereka sebagian besar adalah orang-orang bebas tidak terikat oleh organisasi dan hidup dari alam. Berbeda dengan sebagian besar pemirsa di kota yang hidup dari gaji di perusahaan, baik sebagai "blue collar" maupun "white collar", bukan sebagai Pegawai Negeri Sipil, namun bekerja sehari-hari sebagai petani dan peternak maupun penambang pasir yang bekerja menggunakan tenaga. Dengan mata pencaharian sebagai petani, peternak dan penambang, wajar apabila pengungsi yang sebagian besar hidup di lereng Merapi itu mengalami stress dan hendak pulang ke rumah terus. Tidak sedikit diantara mereka yang nekat untuk menyabung nyawa mengambil pasir di kali yang masih syarat dengan bahaya lahar dingin.
Selengkapnya...

Wednesday, October 27, 2010

Sleman : Peta Bahaya Merapi

Berita simpang siur di televisi membuat seakan seluruh wilayah Sleman terkena bahaya Merapi. Namun, sebenarnya hanya sedikit bagian Sleman yang terkena imbasnya. Bahkan wilayah Sleman Selatan tidak terkena abu sedikitpun, karena angin bertiup ke arah barat.....

  Selengkapnya...

Sang Pemberani itu telah tiada

Innalillahi wa inna ilaihi roji'uun.....


Mbah Maridjan, meski banyak yang mengatakan engkau ngeyel dan keras kepala serta akhirnya meninggal dalam kondisi sujud. Aku tetap melihatmu sebagai orang yang loyal dalam menjalankan tugas.

Meski Sinuhun berkata bahwa engkau bukanlah juru kunci Merapi, tapi juru kuncu ritual kraton, namun dalam diriku tetap menjadikan engkau contoh kesetiaan dan loyalitas pada rakyat dan Allah.
Engkau manembah dan sujud, meski wedhus gembel sudah dekat.....

Mbah, engkaulah Raja tanpa Mahkota......pemberani, loyal dan gugur menjalankan tugas sebagai khalifah.....

Selamat jalan Mbah Maridjan....... Selengkapnya...

Our deepest condolence : Selamat Jalan Mbah Maridjan

Innalillahi wa inna ilaihi roji'uun.....

Telah meninggal dunia, mBah Mardijan atau lengkapnya Mas Penewu Suraksohargo. Berikut biodata almarhum yang dilansir dari Kompas.com.



Selengkapnya...

Tuesday, October 26, 2010

26 Oktober 2010 Salah satu tanggal bersejarah Gunung Merapi

Sampai malam hari ini, tanggal 26 Oktober 2010, Merapi telah memuntahkan material ke udara. Evakuasi telah dilakukan terhadap penduduk di deputaran puncak gunung Merapi yang meliputi wilayah utara Sleman, Kabupaten Magelang, Klaten dan Boyolali. Untuk informasi lebih lanjut mengenai perkembangan gunung Merapi, kunjungi :

Mudah-mudahan bencana ini tidak semakin parah, dan kita semua mendapat perlindungan dari-Nya Selengkapnya...

Thursday, December 17, 2009

The Riverside Jogja : Membangun sebuah cottage dan cafe di pedesaan

The Riverside Jogja, demikianlah nama sebuah cottage and cafe yang ada di dusun Kalireso,Candibinangun,Pakem,Sleman. Sebuah tempat asri nan alami ditepi sungai Boyong, tepat di atas rumah makan Boyong Kalegan.Teuku Dalin, sang pemilik mengajakku berkeliling "kompleks" cottage and cafe nan mungil tersebut. Sebagai seorang yang bergerak dalam dunia entertainment dan social empowerment, Bang Dalin ini memiliki visi bahwasanya membangun pariwisata dapat dilakukan melalui hal-hal yang sepele. Ia menambahkan bahwa apabila desa wisata di Sleman ingin maju, maka yang harus dilakukan adalah promosi dan pembenahan-pembenahan.Sebagai contoh, ia menyebutkan bahwa ketika wisatawan mancanegara berkunjung ke sebuah desa wisata yang mereka inginkan adalah suasana alami plus. Maksud plus disini adalah, sajikan makanan, minuman yang sealami mungkin namun masalah MCK harus bersih.

The Riverside Jogja terdiri dari sebuah cafe yang berbentuk joglo dan dua buah cottage. Pengunjung yang berasal dari kota besar, biasanya senang sekali dengan suasana sungai Boyong yang sejuk dan rindangnya pepohonan.



Untuk dapat melihat informasi lebih jauh mengenai The Riverside Jogja ini, dapat mengunjungi website resmi di http://www.riverside-jogja.com/


Selengkapnya...

Saturday, December 12, 2009

Mbangun deso bukan berarti gaptek coy !!!

Selama ini sebagian besar orang Indonesia beranggapan bahwa mbangun deso identik dengan gagap teknologi alias lebay abiiiiiis ngga paham teknologi. Padahal, banyak sekali inovasi yang dapat dilakukan dengan menggabungkan antara potensi lokal dan teknologi. Selama ini para pemuda desa menyalahartikan modernitas dan teknologi, sehingga tidak bisa menjadikan teknologi sebagai alat, namun justru sebaliknya malah dijadikan alat oleh teknologi untuk memasarkan teknologi. Heran ?

Suatu saat saya melihat seorang pemuda lulusan SMA sedang menggunakan internet di sebuah kecamatan di desa hanya untuk mengakses situs porno. Penyalahgunaan internet untuk hal-hal yang tidak berguna, bahkan membahayakan apabila salah. Sang pemuda itu, bisa menghabiskan waktu lebih dari tiga jam sehari untuk pergi ke warnet di kota kecamatan dengan menggunakan uang saku dari orang tuanya.
Saya bukanlah anti internet masuk pedesaan, karena saya sendiri paling tidak sehari online untuk kontak teman-teman saya yang sedang studi di luar negeri maupun membuka ide-ide baru. Saya hanya bermimpi, apabila internet ini bisa digunakan sebagai alat untuk menjual apa saja yang berbau lokal, sehingga laku di ranah nasional, regional maupun internasional. Di India, internet telah menginspirasi berbagai pihak, termasuk di dalamnya membentuk e-Farm, sebuah sistem pengelolaan rantai pasok hasil pertanian yang menghubungkan antara petani, pedagang perantara dan pada ujung rantai, konsumen. Untuk mendapatkan cara kerja e-Farm di India, dapat dilihat pada video di YouTube (Silahkan click).

Bagaimanakah hal ini bisa dilaksanakan di Indonesia pada umumnya dan Sleman pada khususnya ? Sebagian besar warga Sleman pasti akan skeptis, bahkan apriori terhadap konsep e-Farm ini, namun apabila kita analisis konsep e-Farm ini bisa diterapkan dengan mengelola yang telah ada yang bahkan selama ini hanya menjadi aset yang menganggur dan tidak berfungsi. Sebagai ilustrasi sederhana, pengelolaan Pasar Agropolitan di Turi yang selama ini nampak sepi (paling tidak dalam kacamata orang awam seperti saya ini).

Selama ini, pasar Agropolitan yang dimaksudkan sebagai sentra perdagangan di Donokerto ini tidaklah seramai yang diharapkan, bahkan sekarang ini nampak seperti "pasar hantu". Seorang rekan saya yang ikut serta dalam perburuan foto berseloroh, "Andaikata di sekitarnya terdapat pohon beringin, dapat dipastikan pasar agropolitan ini menjadi pada akhirnya malah menjadi pasar jin beneran". Lalu, kami berdua "ngakak" sambil memotret sudut yang paling representatif untuk mengutarakan "ke-hantu-an" itu.

Sebenanrya, pasar Agropolitan semacam ini bisa menjadi semacam "supply hub" dimana di pasar tersebut terdapat pusat informasi harga salak pondoh beserta hasil bumi lain sehingga petani bisa menjual produk-produknya di pasar ini sebagai supplier. Di ujung lain sana, jaringan terhubung dengan sebuah sentra virtual dimana terdapat informasi mengenai ketersediaan supply dan demand berikut harga di pasaran. Selama ini, terdapat semacam assymetric information dalam rantai pasok hasil bumi sehingga petani tidak memiliki akses informasi pasar mengenai harga beserta fluktuasinya. Dengan adanya e-Farm ini, informasi asimetrik (assymetric information) mengenai harga dan kuantitas dapat dikurangi karena terdapat transparasi harga.

Dengan melihat keberhasilan pembangunan di India dengan e-Farm ini, kemudian kita layak bertanya, apa yang dimiliki oleh orang India yang kita tidak miliki dan apa yang harus dimiliki agar e-Farm bisa berhasil. Last but not least, maukah kita membangun desa tanpa meninggalkan teknologi dan mengadopsi teknologi tanpa melupakan pembangunan pedesaan. Bukankah dengan masuknya internet "digital divide" bisa dikurangi ? Barangkali internet akan dilihat sebagai sarana teknologi lain, sebagaimana traktor yang digunakan untuk menggantikan sarana membajak sawah yang dahulu digunakan oleh kakek-nenek kita di pedesaan, yaitu "bajak plus kerbau".

Hal yang tetap di dunia ini adalah perubahan itu sendiri. Dan, apabila perubahan itu "inevitable", bisakah kita menumpangi perubahan itu dan bukannya ditumpangi sampai "gepeng" ?

MAD











Selengkapnya...

Sunday, December 6, 2009

Pasar : antara yang tradisional dan modern

Pasar atau market, sebuah kata yang berarti tempat bertemunya penjual dan pembeli. Berdasarkan definisinya, maka pasar merupakan sebuah tempat baik virtual maupun riil dimana penjual sebuah produk atau jasa bertemu dengan pembeli produk atau jasa dimana di dalamnya terdapat tawar menawar antara supply, demand dan harga.
Dalam konteks tradisional jaman dahulu di pedesaan, pasar merupakan tempat jual beli yang ada pada suatu wilayah (biasanya kalau di Sleman di tingkat kelurahan dan kecamatan) dimana penjual dan pembeli bertemu pada saat yang telah ditentukan sesuai dengan hari pasaran. Pasar Tempel yang setiap hari ada aktivitas pasar dibandingkan Pasar Turi yang beraktivitas pada hari pasaran tertentu.

Pasar Cebongan yang terletak di kelurahan Cebongan, kecamatan Seyegan

Kecamatan Seyegan satellite map


Selengkapnya...